Visitors

free counters

Rabu, 12 September 2012

Pemimpin Itu Tidak Korupsi ... !!!

   
Oleh : Harminto

Lantas, bagaimana dengan kenyataan bahwa banyak para pemimpin perusahaan, BUMN, eksekutif, legislatif, yudikatif, dan bahkan kepala negara yang telah melakukan korupsi? Apakah pernyataan tersebut hanyalah merupakan jargon sampah belaka?
Di dalam falsafah Jawa, kita mengenal bahwa pemimpin itu mempunyai harus sifat “ing ngarso sung tulodho”.  Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa pada saat di depan (ing ngarso), seorang pemimpin harus mampu untuk memberikan contoh/tauladan yang baik (sung tulodho) kepada orang-orang yang dipimpinnya.  Melakukan korupsi adalah contoh tindakan yang tidak baik bagi seorang pemimpin.  Siapapun sudah tahu bahwa korupsi merupakan tindakan yang tidak baik untuk dilakukan, apalagi oleh seorang pemimpin.  Korupsi merupakan salah satu manifestasi dari penyakit jiwa kronis yang diderita oleh pelaku korupsi.
Para pelaku korupsi pada hakekatnya adalah mereka yang memiliki masalah dalam komunikasi intrapersonal, interpersonal, dan organisasional.  Komunikasi intrapersonal merupakan situasi tentang bagaimana seseorang melakukan komunikasi dengan dirinya sendiri.  Kontemplasi menjadi salah satu cara untuk melakukan tindakan untuk berbicara dengan dirinya sendiri.  Pertanyaan tentang ‘apa yang saya cari (what)’ dalam hidup ini, dan ‘bagaimana saya mendapatkan (how)’ hal tersebut, merupakan dua pertanyaan dasar dalam komunikasi intrapersonal.  Segala bentuk materi yang diperoleh dari hasil korupsi, pada dasarnya bukanlah merupakan hak untuk dimiliki.  Lantas, masih adakah tersisa kebanggaan yang melekat pada diri koruptor dengan memiliki begitu banyak materi yang sesungguhnya adalah bukan haknya?   Gambaran tentang koruptor dengan harta melimpah, adalah seperti yang sering terlihat di dalam film, di mana seorang yang miskin sedang berdiri di halaman rumah  orang lain yang mewah, sembari mengatakan kepada setiap orang yang lewat, bahwa rumah tersebut adalah miliknya.  Mereka menunjuk dan mengakui sesuatu yang jelas-jelas bukan miliknya.  Koruptor jelas tidak mempunyai kebanggaan diri (self esteem) atas banyaknya harta yang digenggamnya.
Koruptor dapat dipastikan bersifat selfish, hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli dengan orang lain, maupun keadaan di sekitarnya.  Koruptor sangat lemah dalam berhubungan secara interpersonal.  Selama dia dapat memperoleh apa yang diinginkan, dengan cara apapun, termasuk mungkin dengan cara menyakiti atau bahkan cara mematikan orang lain.  Koruptor menganggap kemiskinan yang terjadi di sekitarnya sebagai sebuah berkah, di mana banyaknya materi yang dimiliki akan menjadi relatif semakin besar dan kelihatan.   Koruptor oleh karena itu juga tidak peduli apakah tetangganya kelaparan, atau tidak mampu membayar uang sekolah anaknya.  Sifat manusianya seakan lenyap dan mata hatinya telah tertutup rapat.
Bagaimana korupsi dapat merusak semua tatanan yang ada di dalam sebuah organisasi?  Sebagai contoh, sebuah perusahaan merencanakan untuk melakukah pembelian barang yang diperlukan untuk kebutuhan operasional.  Ada dua pemasok yang memberikan penawaran, yaitu pemasok A (harga murah dan kualitas baik), dan B (harga mahal dan kualitas jelek).  Pada sisi internal perusahaan, ada dua bagian yang terlibat dalam proses pembelian tersebut, yaitu kepala bagian pemakai langsung (X), dan kepala bagian pembelian (Y).  Pihak X yang telah merencanakan sebuah tindakan korupsi dengan pemasok B, tentu saja akan selalu berusaha untuk mengatakan bahwa kualitas barang yang ditawarkan adalah baik dan telah sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.  Sementara bagian pembelian yang bukan koruptor, mengatakan bahwa kualitas barang dari pemasok A adalah lebih bagus dengan harga yang lebih murah.  Bagaimana kira-kira yang terjadi selanjutnya dari situasi tersebut di atas?  Karena adanya kepentingan pribadi di dalamnya, maka koruptor akan merusak semua aturan yang ada, dengan mengatakan bahwa yang baik itu jelek dan yang jelek itu baik. Koruptor akan menciptakan suasana kerja yang sangat tidak kondusif, membangkitkan permusuhan, menimbulkan ketidakpercayaan, dan yang lebih kritis adalah membahayakan kelangsungan hidup organisasi (sustainability).
Pemimpin pada hakekatnya adalah individu-individu yang mempunyai keinginan besar untuk melakukan sesuatu yang baik, memberikan guna dan manfaat untuk dirinya sendiri, orang lain, organisasi hingga Negara pada lingkup yang lebih besar.  Pemimpin mempunyai kebanggaan atas hal-hal positif yang telah dilakukannya, menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat.  Pemimpin menjaga dirinya agar tidak bertindak sewenang-wenang karena kewenanganya, tetapi lebih kepada sikap menghargai dan menghormati sesama.
  
Pemimpin itu tidak korupsi.  Mereka yang melakukan korupsi hanyalah orang-orang picik yang melengkapi sifat rakusnya dengan berbuat sewenang-wenang atas kewenangan yang mereka miliki. Para pejabat yang melakukan korupsi, sesungguhnya sedang menunjukan kerendahan harkat dirinya di depan khalayak.  Mereka menunjukan bobroknya mental dan moralnya di depan keluarga, kerabat dan handai taulan.
Saya berkeyakinan bahwa kita semua memiliki derajat dan potensi untuk menjadi seorang pemimpin sejati, baik untuk diri sendiri, keluarga dan negeri tercinta ini……

Minggu, 02 September 2012

Kriteria Pemimpin Amanah


Satryo Soemantri Brodjonegoro
Dirjen Dikti (1999-2007)
Guru Besar ITB dan Anggota AIPI

KOMPAS.


Dalam waktu dekat akan ada sejumlah perguruan tinggi yang menjalani proses pemilihan atau pencarian pemimpinnya, rektor atau direktur, karena masa baktinya telah berakhir.
Tampaknya terjadi kegamangan, baik dikalangan pemerintah maupun perguruan tinggi, mengenai tata cara pemilihan atau pencarian dan mengenai kriteria calon. Setiap pihak berusaha menyajikan konsep atau perangkat yang nyaman untuk dirinya, yang memberikan zone nyaman bagi dirinya sehingga memudahkan dalam kebijakan yang menguntungkan dirinya.
Pemerintah mengharapkan pemimpin tersebut mampu dan loyal kepada pemerintah dalam menjalankan berbagai kebijakan pemerintah. Loyalitas kepada pemerintah jadi kriteria dominan dalam mekanisme ini. Masyarakat perguruan tinggi mengharapkan pemimpin tersebut mampu menyejahterakan kampusnya dan mengapresiasi aspirasi masyarakat kampus. Popularitas di kalangan kampus jadi kriteria dominan dalam mekanisme ini.
Seharusnya tak ada masalah antara keduanya apabila pemerintah dan perguruan tinggi punya tujuan dan kerangka berpikir yang sama. Sebaliknya akan ada masalah berat dan mendasar jika keduanya mempunyai tujuan dan kerangka berpikir yang berbeda.
Loyalitas atau Populis?
Pemimpin kampus seyogianya bukanlah sosok yang loyalis ataupun populis, melainkan pemimpin yang berkarya, bukan berkarier. Apa karya yang diharapkan dari seorang pemimpin kampus? Tak lain adalah menjadikan kampus sebagai kekuatan moral yang mampu menyejahterakan masyarakat melalui kiprahnya.
Bagaimana cara memilih atau mencari pemimpin kampus? Penulis cenderung menggunakan istilah mencari pemimpin bukan memilih pemimpin. Sangat berbeda antara memilih dan mencari. Kalau memilih artinya menetapkan dari calon yang ada atau tersedia atau mencalonkan diiri atau dicalonkan, sedangkan mencari artinya menemukan calon yang sesuai tugas yang akan diemban. Seharusnya proses yang dilakukan kampus adalah pencarian, bukan pemilihan, rektor atau direktur.
Ada hal yang mendasar dalam proses pencarian pemimpin yaitu bahwa calon tidak harus mendaftarkan diri atau melamar karena rektor atau direktur bukan pekerjaan atau jabatan karier tetapi penugasan atau jabatan amanah. Tugas diamanahkan kepada orang yang mampu mengembannya. Mampu tidaknya seseorang calon bukan ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh kalangan di luar dirinya.
Kita patut mempertanyakan jika seseorang menyatakan bahwa dirinya mampu dan berhasil. Sebab, kemampuan dan keberhasilan seseorang tak dapat dinilai oleh diri sendiri. Hal itu tidak obyektif dan sangat subyektif. Namun, penilaian dilakukan oleh kalangan independen di luar dirinya sehingga obyektif.
Untuk mendapatkan pemimpin yang amanah bagi institusi perguruan tinggi, pemerintah dan perguruan tinggi sebagai dua entitas terpisah harus memerankan dirinya sebagai pemangku kepentingan untuk kemajuan bangsa dan negara. Pemerintah seyogiyanya memberikan otonomi kepada perguruan tinggi untuk menjalankan tugasnya membangun negara dan bangsa. Perguruan tinggi seyogiyanya mengamalkan amanah otonomi dari pemerintah berdasarkan kaidah hakiki suatu perguruan tinggi. Baik pemerintah maupun perguruan tinggi bertanggung jawab menyejahterakan masyarakat.
Dengan otonomi yang diembannya, Majelis Wali Amanah (Board of Trustees) perguruan tinggi membentuk panitia untuk meneliti dan mencari sejumlah calon pemimpin kampus yang kompeten dan amanah. Pencarian dilakukan, antara lain, dengan menelaah rekam jejak kepemimpinan dan kewibawaan akademik dari mereka yang berkiprah di bidang akademik.
Bagi yang berkompeten, panitia akan menanyakan kesediaan mereka untuk menjadi pemimpin kampus. Dalam hal ini tidak ada proses pendaftaran atau pencalonan diri sebagai calon pemimpin kampus. Untuk menjamin kualitas pemimpin yang akan diberi amanah, panitia harus terdiri atas orang-orang yang amanah dan hanya punya pamrih terhadap kemajuan kampus.

Rabu, 15 Agustus 2012

Kepemimpinan Dalam Rumah Tangga


 


Oleh : HARMINTO
 

Di dalam beberapa kesempatan kegiatan pelatihan yang saya lakukan, banyak sekali aneka ragam cerita tentang sesuatu yang baru dan menarik dari para peserta pelatihan.  Meskipun cerita tersebut kedengaranya seperti sudah sangat ‘biasa’ atau cenderung ‘basi’, dan tidak menarik untuk dibicarakan, akan tetapi saya lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik dengan berempati dan menempatkan diri saya pada sudut pandang orang yang bercerita.  Berbagai cerita tersebut pada umumnya terjadi dan mengalir di luar sesi pelatihan, yaitu saat rehat kopi atau makan siang.  
Seperti pada kegiatan pelatihan pada umumnya, saat rehat kopi dilakukan, maka para peserta pelatihan dan trainer membaur dan terlibat dalam aneka macam topik pembiacaraan, ringan terutama untuk isu-isu yang tengah ‘hot’ saat ini, mulai dari berita politik, gosip selebritis, anak, dan keluarga.  Salah seorang peserta yang tengah duduk di sebelah saya memulai dengan sebuah pertanyaan klasik seperti ini. “Berkali-kali suami mengatakan kepada saya supaya berhenti bekerja, dan fokus untuk mengurus anak dan rumah. Toh penghasilan suami sudah cukup untuk menopang kebutuhan keluarga”.
Menanggapi cerita seperti di atas, pasti ada yang setuju, dan ada pula yang menolak. Setiap individu memberikan makna yang berbeda-beda terhadap setiap situasi yang dilihatnya, karena mereka mempunyai latar belakang pengetahuan dan pemahaman yang berbeda-beda terhadap kompleksitas kehidupan. Perkataan bahwa pendapatan suami adalah ‘cukup’, sudah merupakan modal yang kuat bagi sang suami untuk meyakinkan istri agar berhenti bekerja.   Pada satu sisi, pernyataan ‘cukup’ tersebut berarti memberikan makna positif berupa jaminan/ kepastian bahwa penghasilan suami akan selalu cukup untuk menghidupi keluarga pada waktu sekarang, tahun depan, hingga kapanpun mereka hidup.  Sedangkan pada sisi yang lain, mengatakan bahwa penghasilanya sudah cukup untuk menghidupi keluarga, secara tidak langsung akan menciptakan sikap manja, dan mematikan kreatifitas maupun potensi diri sang istri.
Salah seorang kerabat saya (wanita), berpacaran dengan teman kulianya, dan akhirnya menikah.  Karena penghasilan suami boleh dikatakan ‘cukup’, maka si istri tidak diperbolehkan untuk bekerja, mulai dari awal mereka menikah hingga suami pensiun.  Kehidupan keluarga mereka berjalan sangat harmonis dan tidak pernah ada masalah yang serius, baik dari segi materi maupun yang lainya.  Pernikahan mereka dikaruniai dengan dua orang anak laki-laki dan dua anak perempuan.  Permasalahan baru mulai muncul saat sang  suami meninggal dunia menjelang tiga tahun setelah pension.  Sang istripun pada akhirnya harus memulai untuk mencari pekerjaan pada usia sekitar 58 tahun! Ada dua anak yang masih memerlukan biaya kuliah.  Bisa dibayangkan betapa pontang-panting si istri untuk mengurus kelangsungan hidup keluarganya, terutama setelah ditinggal oleh suami.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pasti ada juga contoh-contoh ‘cerita sukses’ dari kehidupan keluarga lainnya, yang menempatkan istri hanya untuk mengurus rumah dan anak.  Istilahnya, suami bekerja di luar rumah, sementara istri bekerja di dalam rumah, termasuk mengurus suami, anak-anak dan rumah itu sendiri. 
Penting untuk dipahami bahwa dua situasi di atas bukan untuk dipertentangkan, tetapi justru dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan.  Memperhatikan aspek kelebihan dan kekurangan dari masing-masing situasi yang ada, dan kemudian menentukan pilihan terhadap kemungkinan terbaik yang diharapkan, dan tentunya juga membangun kesadaran terhadap berbagai konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Tidak ada yang abadi di dalam kehidupan dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri.  Berubah merupakan bentuk dan situasi alami yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari, dan hidup merupakan sebuah keberanian untuk menghadapi ketidakpastian (uncertainty) itu sendiri.  Dengan demikian, selalu ‘bergerak’ pada hakekatnya adalah sebuah refleksi logis dari setiap makhluk hidup di dalam mengantisipasi dan menjaga keseimbangan diri atas setiap perubahan yang terjadi, sehingga mereka tetap dapat bertahan di dalam orbitnya.
Di dalam konsep kepemimpinan, pemimpin secara umum dipahami sebagai orang yang dapat memberikan arah dan memberdayakan para pengikutnya, untuk mencapai tujuan bersama.  Sustainability atau kelangsungan hidup menjadi kunci penting di dalam konteks kepemimpinan. Organisasi/keluarga harus dapat tetap bertahan hidup, baik untuk masa waktu sekarang maupun yang akan datang.  Pemimpin juga mempunyai kewajiban untuk mendidik para pengikutnya agar selalu ‘bergerak’ secara proaktif, menggali potensi yang ada, dan sekaligus mengembangkan potensi tersebut agar memberikan kontribusi yang optimal bagi organisasi/keluarga.  Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang lebih hebat sebagai penerusnya.  Sebaliknya, pemimpin akan dianggap gagal jika setelah kepergianya, organisasi atau keluarga justru menjadi ambruk, berantakan, dan tidak punya arah lagi.Pemimpin tidak akan membiarkan pengikutnya untuk terlena dengan situasi ‘sementara’ yang ada saat ini. Pemimpin bahkan juga tidak akan meninabobokan pengikutnya dengan berbagai alasan klise lainya. Pemimpin sejati akan terus membangun sikap mandiri para pengikutnya.
Bagaimana dengan Anda?

Menjadi Pemimpin Dengan Karakter Diri Sendiri

 

Oleh : HARMINTO
 
Saya merasa sangat beruntung mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk berkunjung ke Pemerintah Daerah Kabupaten Anambas pada akhir Maret 2012.  Pada saat menerima undangan untuk menjadi pembicara seminar tentang leadership tersebut, saya mencoba untuk mengingat dimana posisi geografis dari Anambas, meskipun akhirnya harus menyerah dan mencari lokasi tersebut melalui peta Indonesia yang tergantung di dinding kantor.
Pemda Anambas atau sering disebut sebagai kepulauan Anambas termasuk di dalam wilayah pemerintah propinsi KEPRI-Kepulauan Riau bagian luar.  Bertetangga dengan Kabupaten Natuna, Anambas terletak di bagian tengah atas dari pulau Kalimantan dan Malaysia.  Apabila ditarik sedikit ke atas atau ke utara, maka akan ketemu dengan perbatasan Vietnam dan Thailand.  Sebagai sebuah kabupaten kecil di wilayah bagian luar Indonesia, Anambas kaya akan minyak, gas dan mineral, serta ikan Napoleon yang ditujukan untuk pasar ekspor.  Berpenduduk sekitar 46.000 jiwa pada Maret 2012, Anambas memiliki nilai APBD sebesar Rp. 1,17 T.
Sesi workshop yang diselenggarakan selama dua hari, secara garis besarnya berisi tentang upaya pencegahan tindak pidana korupsi, khususnya dalam bidang pengadaan barang dan jasa di lingkup pemerintah daerah Anambas.  Peserta yang hadir sebanyak kurang lebih 80 orang, yang berasal dari unsur pemerintah daerah, terutama para kepala dinas beserta seluruh staff.
Pada saat sesi leadership berlangsung, ada salah satu pertanyaan yang sangat menarik dari peserta yang hadir.  Pertanyaanya kurang lebih seperti ini, “Dari seluruh uraian tentang teori kepemimpinan yang sudah dijelaskan, kira-kira siapa tokoh atau pemimpin yang baik, dan bisa kita tiru?”  Apakah itu mungkin Soekarno sang proklamator dan presiden pertama Indonesia, Soeharto yang sering disebut sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, SBY, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, atau yang lainya?”
Pemimpin dianggap hebat apabila kemampuan yang dimiliki dihadirkan pada suatu kondisi dan situasi yang sesuai dengan kemampuanya.  Di dalam Harvard Business Review edisi Desember 2011, pernah diulas tentang tipe pemimpin sukses; apakah pemimpin itu harus orang yang extrovert?  Ataukah orang yang introvert juga mempunyai kesempatan untuk menjadi pemimpin handal?
Pemimpin extrovert akan memiliki kecenderungan untuk sukses apabila orang-orang di dalam organisasi yang dipimpin lebih banyak yang bersikap diam dan menunggu, kurang kreatif, tidak proaktif, dan minim dengan ide-ide baru.  Kehadiran pemimpin extrovert diharapkan dapat memberikan dorongan baru yang kuat kepada seluruh anggota oranisasi untuk bergerak secara bersama-sama, menuju kepada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Karakter pemimpin extrovert yang cenderung ‘meledak-ledak’, kemungkinan besar akan mampu untuk mendorong gerbong organisaisi agar bergerak maju secara positif, dengan kecepatan gerak yang lebih baik.  Pada sisi lain, pemimpin yang introvert akan mempunyai faktor sukses yang lebih baik jika ditempatkan di dalam sebuah organisasi, dimana anggota organisasi tersebut sudah sangat dinamis, proaktif, kaya akan ide-ide baru, dan juga tersedia ruang yang bebas untuk menyampaikanya.  Pada situasi tersebut, pemimpin introvert bukan bertindak sebagai motor penggerak yang ‘meledak-ledak’, melainkan lebih kepada sikap mengakomodir semua ide, masukan, saran, dan berbagai karya yang ada.  Sikap ‘mendorong’ tidak lagi diperlukan dalam situasi ini, akan tetapi justru mendemostrasikan kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik.  
Apabila pemimpin extrovert ditempatkan di dalam situasi organisasi yang sudah dinamis, maka kehadirannya justru akan berpotensi pada terjadinya perpecahan, kegagalan, atau yang lebih parah lagi justru akan mematikan kreativitas yang telah ada di dalam organisasi. Berbagai ide maupun kreativitas dari anggota organisasi justru akan dipandang sebagai sebuah ancaman oleh para pemimpin extrovert.  Sebaliknya, seorang pemimpin introvert akan menemui kesulitan jika ditempatkan pada organisasi yang statis, dimana anggota organisasi di dalamnya lebih banyak diam, minim dengan ide dan kreativitas baru. Orang introvert mempunyai kecenderungan untuk menghindari konflik, dan relatif tidak memiliki energi yang kuat untuk membakar semangat anggota organisasi.  
Sebagai contoh dari keterangan di atas, mari kita berkaca pada perjalanan sejarah kepemimpinan di Indonesia.  Soekarno merupakan salah satu pemimpin hebat ‘saat itu’, dimana Soekarno memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membakar semangat rakyat Indonesia untuk berjuang mengusir penjajah dari bumi Indonesia.  Fokus kepemimpinan Soekarno kala itu sangat jelas, yaitu membangkitkan semangat dan keberanian untuk berperang, bukan untuk tujuan yang lain.  Sikap pemimpin extrovert yang meledak-ledak dan lantang dari Soekarno tersebut sangat dibutuhkan sesuai dengan situasi yang ada saat itu, yaitu rakyat yang haus akan kemerdekaan.
Berbeda lagi dengan jaman pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai era orde baru, yang mempunyai kecenderungan untuk ‘menutup’ ide maupun kreatifitas yang kemungkinan dapat ‘mengacaukan’ jalanya pembangunan yang telah direncanakan.  Dengan fokus pada tujuan utama pada pembangunan infrastruktur fisik, maka Soeharto harus memastikan bahwa situasi keamanan harus benar-benar terkendali, dengan cara apapun, termasuk mematikan kreatifitas maupun ide-ide yang diperhitungkan dapat mengganggu kelancaran pembangunan yang dicanangkan. Gaya bicara Soeharto yang lembut dan terkesan sopan, jelas bukan merupakan cerminan dari pemimpin extrovert.  Akan tetapi, tindakan tegas dari Soeharto yang nyaris tidak kenal kompromi, secara nyata telah menunjukan karakter pemimpin yang extrovert tulen, membungkam siapapun yang berlawanan.  Rawe-rawe rantas, malang-malang putung….!
Situasi yang berbeda ditunjukan oleh Soesilo Bambang Yudhoyono yang menjadi presiden Indonesia pasca reformasi.  Euforia reformasi membawa dampak yang sangat besar bagi rakyat Indonesia setelah cukup lama berada dalam kekuasaan pemerintahan orde baru.  Era reformasi dipersepsikan sebagai situasi dimana setiap orang boleh berbicara, berbeda pendapat, demonstrasi, dan lainya.  Era reformasi ditandai dengan pertunjukan ‘ego dan akunya’ masyarakat maupun golongan.  Gaya dan tindakan SBY terlihat sangat kental dengan orang-orang dari kelompok introvert lainya, yaitu cenderung lebih bayak mengkamodir ide, saran, dan pendapat dari semua lapisan masyarakat.  Sebagai konsekuensinya, maka pertunjukan gaya introvert SBY yang relatif berlebihan dianggap sebagai suatu sikap yang plin-plan, tidak tegas, tidak punya pendirian, dan berbagai konotasi lain.  Konsekuensi tersebut sangat logis dan harus diterima oleh pemimpin introvert seperti SBY.  Pemimpin introvert, seperti yang ditunjukan oleh SBY, cenderung menunjukan keinginan untuk dipersepsikan sebagai ‘orang baik’, yang menghindari sesuatu yang berbau konflik.
Pemimpin akan memberikan inspirasi tentang kepemimpinanya kepada kita.  Menjadi pemimpin dengan kekuatan karakter diri sendiri, justru akan memperkuat identitas pribadi yang sebenar-benarnya.  Impian untuk menjadi ‘seperti pemimpin lain’ justru akan menempatkan kita pada jebakan euforia kehebatan orang lain, bukan pada karakter dan kekuatan yang bersumber dari dalam diri sendiri.  
Pemimpin dengan karakter diri sendiri adalah pemimpin pembelajar yang selalu menggali berbagai konsep tentang kepemimpinan dari banyak orang, kemudian mengimplementasikan konsep kepemimpinan tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi organisasi yang dipimpinya.  Jangan biarkan diri kita terjebak di dalam batas hanya mengamati kehebatan orang lain, dan kemudian mengaguminya secara membabi buta, karena tindakan tersebut justru akan mematikan potensi kepemimpinan yang kita miliki.
Bagaimana dengan Anda?